PURWODADI, (17/05) | Perhutani KPH Purwodadi menggelar kegiatan slametan wiwitan tebangan di wilayah hutan petak 65 RPH Pekuwon BKPH Bandung pada Minggu (17/05). Kegiatan tersebut dihadiri jajaran petugas BKPH Bandung, kru tebangan, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta warga sekitar hutan Desa Pekuwon.
Kegiatan wiwitan tebangan merupakan tradisi masyarakat Jawa yang hingga kini masih dilestarikan sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sebelum dimulainya kegiatan penebangan kayu di kawasan hutan. Acara berlangsung khidmat dengan diawali doa bersama yang dipimpin tokoh agama Desa Pekuwon, Zubaidi, dilanjutkan bancaan ayam ingkung sebagai simbol syukur, kebersamaan, dan harapan agar kegiatan tebangan berjalan lancar dan selamat.
Kegiatan tebangan tersebut berada pada tegakan jati tahun tanam 2002 seluas 6,5 hektare dengan target produksi mencapai 34.248 meter kubik. Selain menjadi wujud pelestarian budaya lokal, slametan wiwitan juga menjadi momentum penguatan komitmen seluruh jajaran dan kru tebangan untuk melaksanakan kegiatan pemanenan hasil hutan secara tertib, aman, dan sesuai ketentuan yang berlaku.
Administratur KPH Purwodadi melalui Kepala BKPH Bandung, Sri Purwanto, menyampaikan bahwa kegiatan wiwitan tebangan menjadi sarana penting dalam menjaga harmoni antara Perhutani dan masyarakat sekitar hutan, sekaligus memperkuat integritas dalam pelaksanaan pekerjaan di lapangan.
“Tradisi slametan wiwitan ini merupakan bagian dari kearifan lokal yang sarat nilai kebersamaan dan rasa syukur. Di sisi lain, kami menegaskan kembali komitmen seluruh jajaran BKPH Bandung untuk melaksanakan kegiatan tebangan secara profesional, transparan, dan berpegang pada prinsip zero fraud sesuai arahan Administratur KPH Purwodadi. Setiap tahapan pekerjaan, mulai dari administrasi, penandaan, pengukuran, hingga pengangkutan hasil tebangan harus berjalan tertib dan dapat dipertanggungjawabkan,” ungkap Sri Purwanto.
Ia menambahkan bahwa penerapan prinsip zero fraud menjadi langkah penting dalam menjaga akuntabilitas pengelolaan hasil hutan serta mencegah potensi penyimpangan di lapangan. Dengan pengawasan yang ketat dan kerja sama seluruh pihak, Perhutani berkomitmen menjaga tata kelola hutan yang bersih dan berintegritas.
Sementara itu, tokoh agama Desa Pekuwon sekaligus pemimpin doa dalam kegiatan tersebut, Zubaidi, menyampaikan apresiasi atas pelestarian tradisi slametan yang masih dijaga oleh Perhutani bersama masyarakat.
“Bancaan ayam ingkung ini merupakan simbol rasa syukur dan doa keselamatan. Kami berharap seluruh rangkaian kegiatan tebangan diberi kelancaran, keselamatan bagi para pekerja, serta memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar, tanpa mengurangi kelestarian hutan,” ujar Zubaidi.
Dengan terselenggaranya kegiatan slametan wiwitan tebangan ini, diharapkan sinergi antara Perhutani dan masyarakat semakin kuat, serta pengelolaan hutan dapat berjalan secara berkelanjutan, tertib administrasi, dan tetap menjunjung tinggi nilai budaya lokal.
Editor: Aris